Lompat ke Konten Utama (Skip to Content)
Beranda Layanan Berita Kontak
Agenda Aduan Warga Pengumuman IPKD

Geografi

Profil geografis, batas teritorial, luas wilayah 2.307,06 km², tipologi 3 zona fisiografis, tata guna lahan, sistem hidrologi Bengawan Solo, serta sebaran 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro.

18/09/2026
226x

Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu kabupaten terluas di Provinsi Jawa Timur yang menempati posisi strategis di bagian barat perbatasan dengan Jawa Tengah. Wilayahnya memiliki karakteristik spasial yang sangat khas, terbelah oleh aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa, Bengawan Solo, serta diapit oleh jalur perbukitan kapur di sisi utara dan pegunungan kendeng di sisi selatan.

Indikator Spasial Keterangan Resmi (Data BPS / RTRW)
Letak Astronomis 6°59′ – 7°37′ Lintang Selatan dan 111°25′ – 112°09′ Bujur Timur
Luas Wilayah 2.307,06 km² (230.706 Hektare) atau sekitar 4,8% dari total luas daratan Provinsi Jawa Timur
Pembagian Wilayah 28 Kecamatan, membawahi 419 Desa dan 11 Kelurahan (Total 430 desa/kelurahan)
Batas Sebelah Utara Kabupaten Tuban
Batas Sebelah Timur Kabupaten Lamongan
Batas Sebelah Selatan Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi
Batas Sebelah Barat Kabupaten Blora (Provinsi Jawa Tengah)
Rentang Elevasi 6,25 mdpl (dataran aluvial timur di hilir Bengawan Solo, Kanor dan Baureno) hingga 897 mdpl (kawasan lereng Gunung Pandan di Desa Klino, Kecamatan Sekar)
Sungai Utama Sungai Bengawan Solo (aliran alur utama membelah 16 kecamatan dengan panjang kelokan/meander mencapai ±145–184 km)
Infrastruktur Sumber Air Waduk Pacal (seluas ±3,87 km², dibangun 1933) dan Bendungan Gongseng (kapasitas 22,43 juta m³, diresmikan 2021)

1. Letak Geografis dan Batas Wilayah

Secara geografis, Kabupaten Bojonegoro berada di bagian barat Provinsi Jawa Timur dan berperan sebagai pintu gerbang penghubung antara Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah bagian timur. Jarak ibu kota Kabupaten Bojonegoro ke ibu kota Provinsi Jawa Timur (Kota Surabaya) adalah sekitar 110 kilometer ke arah timur, sedangkan ke Kota Semarang sekitar 160 kilometer ke arah barat.

Batas-batas administratif wilayah Kabupaten Bojonegoro adalah sebagai berikut:

  • Sebelah Utara: Berbatasan langsung dengan Kabupaten Tuban, sebagian dibatasi oleh aliran alami Sungai Bengawan Solo dan perbukitan kapur.
  • Sebelah Timur: Berbatasan dengan Kabupaten Lamongan pada koridor lembah datar dan lahan pertanian sawah.
  • Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi, yang dipisahkan oleh punggungan Pegunungan Kendeng Selatan dan kawasan lereng Gunung Pandan.
  • Sebelah Barat: Berbatasan dengan Kabupaten Blora (Provinsi Jawa Tengah), dengan batas alam sebagian mengikuti aliran Bengawan Solo di kawasan Padangan dan Margomulyo.

2. Topografi dan Tiga Zona Fisiografis Wilayah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), topografi Kabupaten Bojonegoro didominasi oleh dataran rendah di sepanjang koridor Bengawan Solo serta kawasan perbukitan kapur dan pegunungan di sisi utara dan selatan. Distribusi luas wilayah berdasarkan kelas ketinggian tanah terbagi sebagai berikut:

Kelas Ketinggian Luas Wilayah Persentase Karakteristik & Cakupan Wilayah
Dataran Rendah (< 25 mdpl) 43.155 Ha 18,71% Lembah aluvial bantaran hilir Bengawan Solo (wilayah timur Kanor dan Baureno) yang landai dan subur.
Dataran Sedang (25 – 99,99 mdpl) 104.629 Ha 45,35% Bentang aluvial utama koridor tengah tempat konsentrasi permukiman perkotaan dan sentra lumbung padi.
Perbukitan (100 – 499,9 mdpl) 82.629 Ha 35,69% Kawasan Pegunungan Kapur Utara serta zona transisi perbukitan dan hutan jati di bagian selatan.
Dataran Tinggi (≥ 500 mdpl) 574 Ha 0,25% Kawasan lereng Pegunungan Kendeng Selatan / lereng Gunung Pandan dengan titik puncak mencapai 897 mdpl di Desa Klino (Kecamatan Sekar).

Secara fisiografis kewilayahan, Kabupaten Bojonegoro terbagi ke dalam 3 (tiga) zona bentang alam utama:

A. Zona Utara (Perbukitan Kendeng Utara)

Mencakup kecamatan di utara Bengawan Solo seperti Kasiman, Kedewan, Malo, dan Trucuk. Zona ini didominasi oleh perbukitan batuan kapur (karst) dengan kelerengan bervariasi antara 15% hingga lebih dari 40%. Di kawasan ini terkandung potensi geologi minyak bumi dangkal yang telah dieksploitasi secara tradisional sejak abad ke-19 (kawasan cagar geologi Teksas Wonocolo), serta kawasan hutan jati dan industri kerajinan tembikar gerabah Malo.

B. Zona Tengah (Lembah Aluvial Bengawan Solo)

Mencakup koridor sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo meliputi Padangan, Gayam, Kalitidu, Dander, Bojonegoro Kota, Kapas, Balen, Sumberejo, Kanor, dan Baureno. Merupakan dataran rendah berketinggian 6 hingga 45 mdpl dengan struktur tanah aluvial endapan banjir yang sangat subur. Kawasan ini menjadi pusat konsentrasi permukiman penduduk, urat nadi transportasi jalan nasional dan rel kereta api ganda (double track), lumbung pertanian padi utama, serta lokasi cadangan minyak bumi raksasa Blok Cepu (Lapangan Banyu Urip) dan Sukowati.

C. Zona Selatan (Pegunungan Kendeng Selatan & Kawasan Konservasi)

Mencakup wilayah Tambakrejo, Ngambon, Bubulan, Gondang, Temayang, Sugihwaras, Kedungadem, dan Sekar. Morfologi wilayah berupa perbukitan bergelombang hingga dataran tinggi pegunungan dengan puncak mencapai 897 mdpl di Desa Klino (Kecamatan Sekar). Zona ini berfungsi sebagai tangkapan air (catchment area), benteng ekologis hutan lindung, rumah bagi infrastruktur penampung air vital (Waduk Pacal dan Bendungan Gongseng), lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (JTB), serta kawasan agrowisata alam (Negeri Atas Angin).


3. Tata Guna Lahan (Land Use)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), proporsi penggunaan lahan di Kabupaten Bojonegoro memiliki kekhasan tersendiri dibanding daerah lain di Pulau Jawa:

Klasifikasi Penggunaan Lahan Persentase (%) Karakteristik & Pemanfaatan Utama
Kawasan Hutan Negara ±40% (±92.203 Ha) Dikelola Perum Perhutani (KPH Bojonegoro, Padangan, Saradan, dan Parengan) yang didominasi tegakan kayu jati bernilai tinggi.
Lahan Pertanian Sawah ±34% (±78.472 Ha) Terdiri dari sawah irigasi teknis, setengah teknis, dan tadah hujan pendukung lumbung pangan padi Jawa Timur.
Lahan Kering / Tegal / Kebun ±15% (±35.121 Ha) Budidaya palawija (jagung, kedelai, kacang tanah) dan komoditas perkebunan khas tembakau Virginia Bojonegoro.
Permukiman & Lahan Terbangun ±11% (±24.910 Ha) Pusat perkotaan, permukiman pedesaan, fasilitas umum, jaringan jalan, dan kawasan industri pendukung migas.

4. Kondisi Hidrologi dan Sumber Daya Air

Urat nadi hidrologis utama Bojonegoro bertumpu pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa ini mengalir dari arah barat daya (perbatasan Blora dan Ngawi) menuju timur laut (perbatasan Lamongan dan Tuban). Sungai ini membelah 16 wilayah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro dengan bentang alur meander mencapai 145 hingga 184 kilometer.

Sungai Bengawan Solo membawa debit limpasan air yang sangat besar pada musim penghujan yang memerlukan pengelolaan tanggul dan pompa banjir terpadu, namun di sisi lain menyediakan pasokan air vital bagi ratusan ribu hektare sawah melalui ratusan intake pompa air teknis.

Untuk menyeimbangkan tata kelola air dan ketahanan pangan secara berkesinambungan, Bojonegoro ditopang oleh bendungan strategis:

  • Waduk Pacal (Kecamatan Temayang): Waduk bersejarah seluas ±3,87 km² yang mulai beroperasi sejak tahun 1933. Berfungsi mengairi areal Daerah Irigasi (DI) Pacal seluas ±16.600 hektare di wilayah timur dan tengah Bojonegoro.
  • Bendungan Gongseng (Kecamatan Temayang): Proyek Strategis Nasional (PSN) Kementerian PUPR yang membendung anak Sungai Pacal dengan kapasitas tampung efektif mencapai 22,43 juta m³. Diresmikan Presiden RI pada 30 November 2021, bendungan ini mengairi 6.192 hektare sawah secara berkesinambungan, mereduksi debit puncak banjir hingga 133,27 m³/detik, serta menyediakan suplai air baku perkotaan sebesar 300 liter/detik.

5. Iklim dan Karakteristik Cuaca

Kabupaten Bojonegoro tergolong dalam daerah beriklim tropis monsun (Am/Aw) dengan dua pola musim yang tegas:

  • Musim Penghujan (Desember – April): Dipengaruhi oleh monsun barat yang membawa massa udara basah. Rata-rata curah hujan tahunan berkisar antara 1.500 hingga 2.000 mm/tahun dengan hari hujan sekitar 80–110 hari.
  • Musim Kemarau (Mei – November): Dipengaruhi oleh monsun timur yang bersifat kering. Pada puncak musim kemarau (Agustus – Oktober), suhu udara permukaan dapat mencapai 33°C hingga 35°C dengan kelembaban udara menurun hingga 55%–65%.

Suhu rata-rata harian berada pada kisaran 26°C hingga 32°C di wilayah dataran rendah perkotaan, dan berkisar antara 20°C hingga 27°C di dataran tinggi bagian selatan seperti Kecamatan Sekar dan Gondang.


6. Sebaran 28 Kecamatan di Kabupaten Bojonegoro

Secara administratif, Kabupaten Bojonegoro terbagi menjadi 28 kecamatan yang membawahi 419 desa dan 11 kelurahan:

No. Nama Kecamatan Jumlah Desa/Kelurahan Zona Fisiografis
1 Bojonegoro (Kota) 7 Desa, 11 Kelurahan Zona Tengah (Pusat Kota)
2 Kapas 21 Desa Zona Tengah (Lembah Bengawan Solo)
3 Dander 16 Desa Zona Tengah – Transisi Selatan
4 Balen 23 Desa Zona Tengah (Lembah Bengawan Solo)
5 Sumberejo 26 Desa Zona Tengah (Lembah Bengawan Solo)
6 Kanor 25 Desa Zona Tengah (Bantaran Hilir Bengawan Solo)
7 Baureno 25 Desa Zona Tengah (Ujung Timur / Pintu Gerbang)
8 Kalitidu 18 Desa Zona Tengah (Sentra Pertanian & Migas)
9 Gayam 12 Desa Zona Tengah (Pusat Blok Cepu)
10 Purwosari 12 Desa Zona Tengah – Barat
11 Padangan 16 Desa Zona Tengah (Pintu Gerbang Barat)
12 Ngasem 17 Desa Zona Tengah – Selatan (Kayangan Api)
13 Sukosewu 14 Desa Zona Tengah – Dataran Pertanian
14 Kepohbaru 25 Desa Zona Tengah – Dataran Timur
15 Trucuk 12 Desa Zona Utara (Bantaran Bengawan Solo)
16 Malo 20 Desa Zona Utara (Perbukitan Kapur & Kerajinan Gerabah)
17 Kasiman 10 Desa Zona Utara (Perbukitan Hutan Jati)
18 Kedewan 5 Desa Zona Utara (Perbukitan & Geopark Wonocolo)
19 Temayang 12 Desa Zona Selatan (Waduk Pacal & Gongseng)
20 Sugihwaras 17 Desa Zona Selatan (Hutan & Pertanian)
21 Kedungadem 23 Desa Zona Selatan – Timur (Perbukitan)
22 Bubulan 5 Desa Zona Selatan (Kawasan Hutan Lindung Jati)
23 Gondang 7 Desa Zona Selatan (Perbukitan & Waduk Pacal Selatan)
24 Sekar 6 Desa Zona Selatan (Dataran Tinggi & Puncak Klino 897 mdpl)
25 Tambakrejo 18 Desa Zona Barat Daya (Perbukitan & Gas JTB)
26 Ngambon 5 Desa Zona Barat Daya (Perbukitan Hutan)
27 Ngraho 16 Desa Zona Barat Daya (Perbatasan Jateng)
28 Margomulyo 6 Desa Zona Barat Daya (Pintu Gerbang Ngawi/Sragen)
Bagikan Informasi Ini: